Hampir 1/5 abad saya lewati dalam, apa yah kita biasa sebut namanya, menjajaki? Menapaki? Ya pokoknya bergelut, nah bergelut, sudah hampir segituan saya bergelut berkecamuk dalam melewati rintangan hidup ini. Apa yang disebut pendewasaan yang bisa dibilang proses, dan kematangan yang menjadi tujuan, telah saya lewati, dengan beberapa ujian, baik tertulis maupun tidak tertulis.
Sejak kecil saya selalu ditanamkan mana yang baik dan mana yang buruk, melalui ngaji di sore hari sampai waktu isya, saya diajarkan apa itu bertaqwa, yaitu bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Tetapi baik menurut siapa dan buruk menurut siapa? Dari semenjak saya belajar baca a ba ta sa di iqro, sampai saya membaca dan mencoba memahami das kapitalnya marx. Saya masih bingung jika kita banyak mengumbar kata ‘sudut pandang’
Sudut pandang, ya, ada sudut pandang saya, ada sudut pandang kamu. Yang jika dipaksakan untuk salah satu lebih unggul, pada akhirnya menimbulkan gesekan yang berujung pada konflik. Slek kalau anak muda sekarang bilang, bahkan bisa-bisa terputusnya silaturahmi satu sama lain sampai malaikat yang meniup sasangkala bertugas sesuai porsinya. Kita masing-masing memiliki sudut pandang, yang biasa kita sebut, subjektifitas.
Subjektifitas disini tidak akan saya bedah dengan terminologi-terminologi ataupun pengertian-pengertian etimologis yang bisanya cuma memusingkan dan mendatangkan masalah baru seakan metode itu merupakan rentenir yang berperan sebagai problem solver namun malah menjadi neo-problem maker. Subjektifitas adalah, bagaimana kita menanggapi, bahwa mencuri itu perbuatan tercela, titik, tidak mau dengar alasan mencuri dari si pencuri. Itu salah, ya sudah, jangan melawan, melawan, dibakar ramai-ramai, atau diarak keliling kampung dan dilempari uang. Dilempari uang? Saya mau kalau begitu, eh tapi uangnya koin. Tidak jadi, sakit kalau dilempar sekuat tenaga. Tapi pungut lagi saja ya padahal. Tapi sudahlah apasih. Ya itulah. Banyak kasus yang menurut saya banyak menyeret substansi dari subjektifitas itu sendiri.
Menurut saya, kita semua, belanda merupakan penjajah yang jahat, tak tahu malu, licik dan senang adu domba. Adu domba rakyat yah, maksudnya bukan adu domba di desa tanjungsiang taruhan begitu, yang menang dapat wanita sama arak seperti di film laga. Bukan. Adu domba rakyat. Ya menurut kita pasti seperti itu. Tapi menurut belanda? Kita ini separatis. Separatis yang menghambat mereka untuk menghidupi anak cucu mereka lewat rempah-rempah yang mereka kuras. Oh iya tadi juga kita membahas tentang mencuri ya? Iya sekarang mencuri saja. Kita lihat anak kecil mencuri pakaian dalam di mall setengah grosir di pojokan jatinangor. Pasti kita langsung mencap itu salah, perbuatan tercela, dan lebih buruk lagi kita suuzon bahwa itu anak kecil kecil sudah jadi fetisis, fetisis itu penyakit, penyakit tukang nyolong pakaian dalam terus dihisap-hisap, tidak mau tahu lebih lanjut kan? Jijik kan? Saya sih tidak. Biasa saja. Itu sudut pandang kita, kamu semua. Tapi coba kita Tanya dari sudut pandang si anak kecil, pasti ada saja alasan yang logis yang pastinya dapat membuat kita menghekter mulut kita sekuat mungkin agar menjaga mulut. Bisa saja alasannya untuk ibunya yang terkena penyakit kelainan kelamin akibat tidak pernah menggunakan pakaian dalam kalau ngemis di trotoar. Atau juga mungkin di rumahnya tidak ada kain penyaring untuk masak nasi, atau tidak ada handuk, atau tidak ada keset, atau tidak ada hordeng atau tirai? Apa saja, pasti anak tersebut memiliki subjektif masing-masing untuk berdalih. Dan itu sah-sah saja, ini bukan rusia jaman stalin bukan?
Saya jadi teringat dengan rekan atau adik saya di tempat saya kuliah, ketika beliau mencalonkan diri sebagai presiden himpunan mahasiswa, saya disitu sebagai screener. Bahasa indonesianya apa yah? Ya pokoknya saya bertugas sebagai yang ngetes dan yang menghardik mereka-mereka yang mau jadi presiden kalau mereka lalai dalam berucap dan omong doang dalam kampanye. Salah satu rekan saya tersebut bilang ‘oh tidak, menurut saya kebenaran mutlak’. Ada oh tidaknya, soalnya sebelumnya saya bilang bahwa kebenaran itu relatif. Dia menyanggah. Cuman sayang disitu tema pembahasan kita bukan mengenai sudut pandang, tetapi mengenai bagaimana, apa yah? Lupa lagi. Nanti saya ingat-ingat. Pokoknya waktu itu bukan membahas sudut pandang. Makanya tidak saya perpanjang karena debat-debat begitu bikin keriput muka, saya tidak mau. Laku juga belum kan. Oh iya, kebenaran itu mutlak. Benarkah? Membuka pintu lebar-lebar terhadap investor asing itu benar. Benar sekali, bagi siapa? Bagi para elit, karena itu jelas memperkaya mereka dan kerabat sejawat serta peliharaan mereka, namun rakyat? Sudut pandang rakyat? Rakyat menjadi miskin dan semakin miskin bahkan gila karena miskin. Kebenaran yang bagaimana yang mutlak berarti? Kebenaran yang tidak menyertakan sudut pandang pihak lain yang terlibat? Dalam kasus ini. Saya diam jika kebenaran yang mutlak ini adalah kebenaran berdasarkan tuhan saya. Saya harus tunduk. Jika melawan nanti kafir. Tidak masuk surga, dililit ular raksasa dan diberi minum lahar panas dengan nanah. Tidak mau.
Lantas banyak para politikus, dosen, orangtua, bahkan pebisnis, yang sering menyinggung apa itu objektif. Objektif adalah bagaimana kita berpikir dua arah, agar mendapatkan solusi yang diinginkan dalam menyelesaikan masalah. Namun sadarkah kamu bahwa hasil objektif merupakan neo-subjektif? Subjektif baru dengan skala yang lebih besar dan kelak menghasilkan resistensi pihak yang besar pula? Belajar dari hidup yang sudah jalan puluhan tahun ini. Saya pikir win-win solution itu semu, tak pernah ada, yang ada hanya lah winner & loser. Dimana pihak winner lebih diurus, sedangkan yang loser diperhatikan sesaat, namun kemudian diacuhkan dan tidak dipedulikan. Hidup mau sok modern bagaimanapun juga, tetap saja mental rimba terus tertanam. Siapa kuat dia menang, memang di Indonesia saja atau di Somalia juga sih? Di Rumania gitu, di Paraguay, gitu semua? Setidaknya inilah yang masih menjadi bahan kajian saya di masa hidup saya, harus dipikirkan yang begini. Daripada memikirkan bagaimana kaya dan bagaimana dapat istri cantik 7 biji seperti anggota SNSD girl generation. Utopis. Dan kini saya menyadari, saya orang yang sangat ultra-subjektif. Menurutmu buruk? Tidak menurut saya. Karena itu tadi, saya manusia subjektif. Dengan inilah saya menyikapi Indonesia, saya penganut sentralisasi, saya suka diktator bertangan besi, saya tidak suka kekurangan yang menghambat. Inilah saya, untuk Indonesia, dengan sudut pandang saya, akan saya bangun Indonesia yang saya mau. Walaupun kondisinya sekarang begini. Tapi, jangan pernah berputus asa menyayangi Indonesia.
kelinci99
ReplyDeleteTogel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
yukk daftar di www.kelinci99.casino