Yah, dalam waktu dekat, calon mahasiswa-mahasiswa baru berdatangan, bayar pakai uang jutaan, lalu resmi kuliah, kemudian dengan bangga dan mereka bela mati-matian lembaga yang mereka bayar, yang biasa mereka sebut sebagai almamater. Tidak ada yang spesial dari semua yang mendaftar, maksud saya disini bukan muka mereka yang tidak ada yang spesial, itu relatif, terserah kalian mau bilang mereka jelek-jelek, dibawah standar, atau mungkin underdog, persepsi kalian. Maksud saya tidak ada yang special disini maksudnya tidak ada yang memiliki kekuatan supranatural khusus karena dia peranakan manusia dan jin. Tapi mungkin saja ada, bisa jadi, kita saja tidak tahu iya kan?
Nyata-nyatanya, kampus kemudian semakin penuh sama mereka-mereka yang baru ini, parkiran pun jadi penuh dengan kendaraan pribadi entah itu motor, mobil, container ataupun delman. Yang dua terakhir sih tidak mungkin, tapi siapa tahu? Ya, yang tahu apa yang terjadi kelak hanya tuhan yang mengetahui. Kalau kita sok ramal-ramal nanti disangka melangkahi tuhan. Dosa, dan lulus pun lama jadinya. Nah, kembali ke kampus. Kampus pun pada akhirnya penuh dengan muka-muka nanggung, muka peralihan dari remaja menuju dewasa, kantin pun jadi penuh, kelas jadi penuh, pokoknya semua penuh, seakan kampus sudah dijajah oleh gerombolan anak muda mantan geng motor yang punya misi menyebarkan sekte baru yaitu hura-hura sampai pagi, dugemisme. Tapi eits, kalian bebas mau begitu, tapi sebelumnya, perkenankanlah dahulu kami yang sudah matang, purnawirawan, serta cakap pengalaman ini untuk mengospek kalian para generasi millennium ketiga.
Tapi, apa sih ospek? Menyeramkan kah? Konyol kah? Useless kah? Ospek, bagi para aktivis hima, pastinya penting menurut mereka. Penting dengan dalih untuk pengkaderan, dan pembentukan karakter sesuai dengan jurusan masing-masing. Karakter? Yang bagaimana sih? Yang kritis, dinamis, edukatif, mengabdi kepada masyarakat? Halah mengabdi, bikin ormas saja kalau mau mengabdi. Kritis-kritis, ngapain? Korek-korek urusan orang terlalu dalam sampe orang terkait merasa terpojok? Sana bangun pondasi dosa yang kokoh, sekritis-kritisnya kamu, tidak akan saya anggap kamu pintar, yang ada ya kamu figure pengganggu. Kritis bagus jujur saja, tapi penyakit kepalang kritis yang ngaco dan sok-sokan ini yang benar-benar menjijikkan. Apalagi? Edukatif? Penggal kepala saya kalau dominasi edukatif di otak mahasiswa tidak membuat mereka kuliah-pulang kuliah-pulang. Dan lagi, goals ospek yang begini saya kira hanyalah sebuah dalih, dalih orang-orang yang pintar, agar mereka punya konco-konco, yang mau dimintai tolong di kemudian hari dan hanya sekedar jadi kabel koneksi. Alasan lain? Yang ini yang saya malas, ospek malah jadi media terselubung pengkaderan senior yang tergabung dalam organ ekstra, untuk memperbanyak anggota organnya dengan merekrut junior baru. Semacam NII? Semacam, hanya ini lebih pengecut dalam hal misi.
Ospek juga kadang menjadi media birokrat kampus, agar teman-teman mahasiswa baru penurut, focus di akademik, dan tidak macam-macam sama pihak kampus. Mereka ingin kampus di mindset mahasiswa baru, hanyalah sebagai satu-satunya lembaga yang membantu mereka meraih cita-cita. Kalau diusik dengan kegiatan lain, maka cita-cita akan sulit tergapai. Kampus sekarang senang dengan mahasiswa yang apatis. Oke mungkin ada beberapa dosen yang progresif, ingin mahasiswa ini itu, aktif juga di organisasi. Tapi berapa banding berapa yang begitu? Terhitung oleh bulu hidung malah saking sedikitnya. Sedikit berlawanan memang goals ospek antara universitas dan hima. Tapi kesemuanya punya kepentingan masing-masing. Dengan menjadikan maba sebagai kelinci percobaan
Lantas ospek yang bagaimana yang menurut saya bagus? Ospek itu santai saja! Kalau mau jujur, bagi saya kaum yang sudah tua dan cepat lulus dalam waktu dekat ini amin, ospek itu momen senang-senang. Jujur, tidak munafik saya, maba juga bagi saya objek, objek tertawaan yang luar biasa indah. Saya membutuhkan tawa mereka dan mereka pun membutuhkan komando senior yang santai dan seru agar suasana kampus kondusif untuk didiami sampai sore, didiami untuk sekedar ngobrol, main gitar, diskusi, dan tukar wanita. Semua berkumpul tanpa sekat suku, agama, maupun organ ekstra yang menaungi. Ini yang namanya kekeluargaan, ini yang namanya kebahagiaan. Interaksi sampai malam itu luar biasa indah. Dan ini seharusnya menjadi prioritas ospek. Membangun keluarga, menghidupi kebahagiaan.
Senioritas itu harus! Supaya mahasiswa baru tidak kurang ajar, ketegasan setidaknya membantu mereka-mereka yang labil ini menentukan pribadi mereka. Persetan dengan ‘semua sama sederajat, sama manusia sama seagama’. Apaan, kau yang merasa setahun diatas maba pun jika mereka mengejekmu dengan ejekan yang tidak enak di telingamu, saya yakin seyakinyakinnya timbul di kepala kalian untuk menghabisi mereka dengan pikiran ‘ga sopan gini, berani gini euy, saya lebih dulu disini men!’ Mati saja kalian kalau masih munafik gitu. Haha, senioritas memang perlu, terutama dalam hal beretika, apa-apa yang harus dan tidak harus dilakukan maba harus diperjelas, apa-apa yang tidak boleh yang kemudian menjadi boleh oleh maba, semua dibimbing senior, dibimbing dengan tawa dan candaan, dengan batasan saling menghargai dan menyayangi. Bukan bermain drama dengan yang satu pura-pura galak, yang satu perhatian. Kalau mau galak, tegas, tegas sekalian. Pertegas bahwa kita senior punya kuasa, maba diam, belum boleh apa-apa, yang boleh Cuma tertawa.
Metode interaksi dengan tema pembodohan saya pikir sangat bisa mendekatkan dan mempererat chemistry antara senior dengan maba. Melalui metode-metode seperti kuis cerdas cermat dimana senior selalu benar dalam konteks yang jauh dari serius, serta agenda luar ospek seperti titah senior untuk suruh itu maba bikin makrab atau apalah yang penting mereka memberi sesuatu yang nonbenda tetapi kesan, hubungan dua arah yang hakiki pun akan terjamin. Persetan dengan apa itu pembodohan-pembodohan. Serius sekali, sana lomba debat sama UI kalau mau serius-serius. Nah kalau serius ada bagiannya. Silahkan itu hima bikin konsep perihal pemilihan ketua angkatan, yang penting kajian seriusnya, kadarnya tidak melebihi kebahagiaan dalam tawa.
Sampai di paragraph yang ke berapa ini? Gatau lah males ngitung malas scroll ke atas. Ya pokonya sudah paragraph yang kesekian. Di paragraph yang kesekian ini saya yakin, bagi kalian yang panas dan sudah sangat tidak setuju dan sudah tidak sabar ngajak saya diskusi, weiss diskusi, gaya, ngajak begitu karena nyata-nyatanya mau konfirmasi, bahwa kamu sebagai senior tidak begitu. Ah yasudah sana terserah itu mah. Saya juga berbicara berdasarkan pengalaman. Ospek dengan tujuan ini itu yang kalau tidak tercapai minimal ada dalih supaya proposal di tandatangan jurusan, ospek dimana panitia membuat list data mana maba yang cantik kemudian panitia tawarkan kepada teman-teman lain yang tidak ikut kepanitiaan, permainan surat cinta dan surat benci yang konyol, kepuasan tim pembentak yang dengan membuat maba ketakutan malah bikin sensasi dan kepuasan tersendiri bagi dirinya. Hambar semua bagi saya, nonsense, gaya permainan senang-senang konservatif begitu, sudah kuno, masih saja dipakai. Maka wajar saja kalau sekarang maba kebanyakan apatis. Tidak menyatu, kepalang edukatif, kepalang aktivis. Karena mereka bingung, wadah pembentukan jatidirinya cacat semua, tak ada kesenangan hakiki, hanya kepentingan dan kepentingan. Yah, namanya juga politik praktis. Gudang kajiannya lagi kampus ini. Yasudah. Selamat bosan mahasiswa baru!!

kelinci99
ReplyDeleteTogel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
yukk daftar di www.kelinci99.casino